****
Tanggal 11 november
2011 Tanggal dimana kau menyatakan cinta
padaku di bawah sinar bulan yang indah di hadapan semua sahabatku dan
keluargaku. Kata-kata manis yang keluar dari bibir indahmu membuat aku percaya
akan untuk memilihmu. Dan masih kuingat senyuman yang indah kau lontarkan
kepadaku.
***
“aku mencintaimu spenuh hatiku, aku mencintai segala kekuranganmu dan menyayangi kelebihanmu. Maukah kau menjadi pengisi hatiku saat ini April? aku janji akan menjagamu sekuat yang aku bisa.” Tanya Gifran kepadaku. “aku mau” jawabku sambil tersipu malu, lalu Gifran tersenyum kepadaku.
“aku mencintaimu spenuh hatiku, aku mencintai segala kekuranganmu dan menyayangi kelebihanmu. Maukah kau menjadi pengisi hatiku saat ini April? aku janji akan menjagamu sekuat yang aku bisa.” Tanya Gifran kepadaku. “aku mau” jawabku sambil tersipu malu, lalu Gifran tersenyum kepadaku.
Hari demi hari, bulan
demi bulan telah kita lalui bersama dengan banyak kenangan yang indah dan
mungkin kenangan pahit pun kita lewati
bersama, dan juga banyak warna kehidupan yang telah kita lewati bersama. banyak
juga janji-janji suci yang kita ucapkan bersama. karena kau aku menjalani
hari-hariku dengan penuh semangat.
“selamat pagi, April” sapa Gifran dengan senyuman
yang manis.
“selamat pagi, Gifran” sapa ku kembali.
“oiya, aku dengar ada anak baru loh di sekolah kita.
Katanya dia seangkatan sama kita, tapi aku gak namanya dia siapa. Kira-kira
kamu tau gak?” tanya Gifran.
“tau donk, kamu fikir aku udik.” Jawabku.
“oiya? Siapa coba?” tanyanya kembali dengan nada
yang kurang percaya.
“namanya alita, dia itu sepupu aku pindahan dari malang” jawabku.
“pantesan aja kamu tau, orang dia sepupu kamu.” Jawab Gifran, sambil mencubit pipiku.
“namanya alita, dia itu sepupu aku pindahan dari malang” jawabku.
“pantesan aja kamu tau, orang dia sepupu kamu.” Jawab Gifran, sambil mencubit pipiku.
Tak terasa bel pun berbunyi..
“baiklah anak-anak sebelum kita mulai pelajaran ibu akan memperkenalkan teman baru kalian, ayo kalian silahkan masuk nak.” Kata ibu guru.
“baiklah anak-anak sebelum kita mulai pelajaran ibu akan memperkenalkan teman baru kalian, ayo kalian silahkan masuk nak.” Kata ibu guru.
Masuklah
seorang gadis berambut lurus yang berwarna hitam, yang berkulit putih dan
tinggi. Semua anak lelaki memandangnya kecuali, Gifran. Gifran hanya
memandangnya dengan sebelah mata. Aku senang sekali.
“hai perkenalkan nama aku TALIA BASUKI, aku pindahan
dari SMA 2 BUDI LUHUR.”
“terimakasih Talia, silahkan duduk di samping kursi APRILIA
BASUKI.” Kata buguru.
“baik bu” jawab Talia. Talia pun berjalan menuju
meja ku. Aku melambaikan tangan dan tersenyum kepadanya, ia pun membalasnya.
“nanti jam istirahat kekantin bareng aku yuk, aku
traktir deh.” Ajaku.
“sip”jawabnya.
“sip”jawabnya.
Tak
terasa belpun berbunyi, jam istirahat telah tiba. Aku lalu membereskan
buku-buku ku lalu menaruhnya dalam tas. Begitu juga dengan Talia.
“oiya kita jadikan pergi ke kantinnya.”tanyaku.
“iya jadi kok, kan kamu yang traktir makanya aku ikut” jawabnya dengan nada ceria.
“oiya kenalin nih, Gifran pacar aku. Gifran ini Talia, Talia ini Gifran”
“oiya kita jadikan pergi ke kantinnya.”tanyaku.
“iya jadi kok, kan kamu yang traktir makanya aku ikut” jawabnya dengan nada ceria.
“oiya kenalin nih, Gifran pacar aku. Gifran ini Talia, Talia ini Gifran”
“Gifran” jawabnya dengan nada singkat, sambil
menjabat tangan Talia.
“Talia” jawabnya sambil menjabat tangan Gifran.
Tiga bulan telah berlalu. Hubungan antara aku, Gifran, dan tallia tampak
begitu jelas, terasa begitu hangat bagaikan sepasang sahabat yang tak
terpisahkan. Tetapi, hari ini aku merasa ada yang aneh antara Gifran dengan Talia
. Aku merasa ada kejanggalan dalam hubungan kita bertiga, terutama antara
Gifran dengan Talia.“Talia” jawabnya sambil menjabat tangan Gifran.
Waktu kian berlalu, hubungan kalian kian dekat. Dan perhatian qifran kepadaku semakin lenyap. Aku merasa seperti terasingkan bagaikan daun layu tak berguna. Sakit. Iya pedih ini terulang kembali. Tetapi logika dan hatiku memaksaku untuk berfikir jernih. Mungkin karena Talia dan Gifran satu kelas dan satu kegiatan ekstra hubungan terlihat begitu dekat. Ku mencoba bersabar. Terus bersabar menanggapi semua perlakuan Gifran dan tallia padaku.
Senja ini terasa begitu nyaman, semilir angin
bertiup sepoi-sepoi mendamaikan hati. Kutatap langit, mentari mulai meredupkan
sinarnya tergantikan oleh bintang-bintang yang indah. Pancaran bintang-bintang
itu kembali melukis kenangan indah bersamamu. “Sreeek” kudengar suara
kursi taman yang bergesekan dengan paving. Kutatap sekeliling, mencari siapa
gerangan yang telah mengganggu lamunan indahku. Dari kejauhan, mataku menangkap
sesosok bayangan tak asing bagiku. Dia berjalan semakin dekat kearahku. Aku
menatapnya semakin lekat, mengira-ngira siapa dirinya. Gifran, ujarku dalam
hati.
“hai April” sapa Gifran kepadaku.“hai Gifran” sapa ku kembali. Ternyata benar dugaanku.
“aku ingin mengungkapkan sesuatu kepadamu dan ini telah berjalah 1 bulan, dan aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri,” “Talia, keluar”jawabnya dengan nada yang lembut. Talia pun berjalan dengan perlahan. Aku curiga dengan mereka berdua.
“ada apa dengan semua ini, aku tidak mengerti. Tolong jelaskanlah.” Pinta ku.
“sebenarnya aku dengan Talia...”jawabnya.
“jangan bilang kalian sudah menjalin hubungan di belakang aku” jawabku dengan nada curiga.
“iya Pril, kami berdua sudah menjalin hubungan selama satu bulan.” Jawab talia kepadaku. Air mataku mengalir dengan seketika, jantungku terasa sakit mendengar ucapan talia kepadaku, aku lemas.
“apa itu benar gifran.”tanyaku. gifran hanya mengangguk dan kembali terdiam. Akupun menghampirinya.
“kenapa kau tega melakukan ini semua kepadaku, kenapa. Kenapa? Mana semua janji yang kau ucapkan setiap hari kepadaku, mana mana?” tangisku semakin meledak.
“maafkan aku April, ini semua salahku. Sejak dari awal aku bertemu dengan talia aku sudah cinta dengannya, maafkan aku. Hanya itu yang aku bisa ucapkan. Kita harus mengakhiri hubungan kita. Aku memilih talia.” Jawabnya.
“iya, aku mengerti aku tau. Selamat ya, semoga langgeng ya”jawabku. Akupun berlari meninggalkan mereka berdua, aku tidak ingin bertemu mereka lagi. Aku membenci mereka. Aku berlari sekuat tenaga dan aku berhenti, aku termenung mengingat semua kejadian tadi. Mengapa Gifran tega memutuskan ku demi Talia sepupuku sendiri. Kepalaku terasa pusing dan penglihatan ku lama-lama semakin gelap.
Kini aku meratapi semua kenangan indah bersamamu. Sakit, perih yang ada di dalam hatiku. Tapi aku harus menerima semua kenyataan ini. Tepat pada hari itu kau katakan padaku bahwa kau ingin mengakhiri hubungan kita. Saat kubertanya mengapa kau hanya menunduk diam, tak berani menatap mataku. Kupandangi dirimu, mencoba mencari adanya kegelisahan dalam matamu. Tetapi aku tak menemukannya, matamu malah berbinar, tersenyum. Dengan berbagai cara kucoba bujuk dirimu untuk menjawab tetapi kau tak memberikan alasan yang logis padaku. Sungguh aku bimbang, aku harus bagaimana. Kucoba hapuskan pedih ini. Tapi itu tak terjadi, yang ada hanya rasa sayangku padamu yang kian berkelebat sekenanya.
Hari-hari kulalui sendiri. Aku semakin merasa jauh darimu. Tak ada canda, tawa seperti waktu dulu kita bersama. Aku rindu masa itu, ya masa saat aku masih bersamamu Gifran. Terkadang aku seperti orang gila yang berbicara sendiri pada bintang dalam rindu yang tak tahu kapan akan berakhir.
Malam ini fikiranku benar-benar kacau. Aku tak mampu berfikir lebih berat lagi. Sungguh, pedih semua ini. Kubuka kembali album foto tentang kita. Kenangan yang indah dan berakhir begitu pahit. Haruskah aku tetap mengharapkanmu? Bahkan kau telah berulang kali hancurkan aku. Atau haruskah aku pergi dari hidupmu? Ya, mungkin ini yang terbaik bagiku. Tuhan, tolong hapus kenanganku bersamanya. Meski hati kecilku masih mengharapkannya. Aku hanya mampu berdoa semoga kau bahagia dengannya. Cukup aku saja yang kau sakiti. Kututup album fotoku dan menuju ranjangku untuk tidur. Kuharap semua kenangan pahit ini akan menghilang bersama terpejamnya mataku.
0 komentar:
Posting Komentar